Masih
banyak masyrakat yang underestimate dengan
anak jalanan. Mereka berfikir bahwa anak jalanan adalah segerombolan manusia
yang tidak memiliki masa depan, sedangkan anak jalanan yang mereka pikir tak memiliki masa depan, juga ingin
hidup sukses, memiliki cita-cita, memiliki pendidikan yang layak, dan sebagainya.
Hanya saja mereka memiliki hambatan untuk mencapai itu semua, tidak mempunyai
biaya yang cukup misalnya?
Namun
masih banyak pula mereka yang memiliki kesadaran sosisal mencoba membantu para
anak jalanan, untuk mendapatkan pendidikan yang harusnya mereka terima seperti
anak-anak pada umumnya.
Membangun
sebuah yayasan contohnya, di yayasan, mereka para anak jalanan dibina,
diberikan ilmu, dan masih banyak lagi. Seperti salah satu yayasan yang dibina
oleh Ali Santoso, atau yang akrab disapa bang
Ali. Yayasan ini terletak di Jl.Bacang No. 46 Jati Padang Pasar Minggu
Jakarta Selatan.
Ia
bercerita kalau yayasan ini sudah
berdiri sejak tahun 1998, berawal dari sebuah komunitas yang didirikan oleh
mahasiswa aktivis HMI(Himpunan Mahasiswa Islam) UIN (Universitas Islam Negeri)
pada tahun 1997, dimana saat itu hanya ada 8 anak jalanan yang mereka bina.
Seiring
berjalannya waktu, kegiatan tetap berjalan dengan jumlah anak binaan yang masih
tetap sama, yaitu 8 anak. Setelah memasuki tahun 1998 tepatnya seusai tragedi
1998 terjadi, jumlah anak-anak jalanan semakin banyak. Akhirnya, para mahasiswa
ini berinisiatif untuk mendirikan sebuah yayasan yang dinamakan “Yayasan Bina
Anak Pertiwi”.
“Saat
itu mereka gak langsung mendirikan
yayasan tersebut, tapi baru
mendapatkan struktur kepengurusan, tidak ada dewan pendiri dan dewan pengawas”
ujarnya. Para mahasiswa ini pun akhirnya mencari dewan pendiri dan dewan
pengawas, dapatlah dewan tersebut, yang
memang sebagian besar anggota dewan pada saat itu, salah satunya, Ibu Eses
Panigoro, Bapak Dedi Panigoro, Ibu Dewi Pimarali, dan lain-lain.
Tanggal
08 November 1998, resmilah Yayasan Bina Anak Pertiwi ini berdiri. Awalnya,
kegiatan yang ada hanya sekadar pendidikan keagamaan dan pendidikan kejar
paket. “Untuk keterampilan dan yang lain itu belum ada, karena dulu kita numpang di Masjid Al-Awwabin, nah dari situ kita pindah ke lenteng
agung disitu kita hanya beberapa
bulan trus diusir sama warga, dari
situ kita pindah lagi ke bojong bertahan setahun trus masih pindah-pindah lagi” ucapnya dengan ramah.
Setelah
banyak mengalami perpindahan lokasi, akhirnya pada tahun 2001 yayasan Bina Anak
Pertiwi memiliki bangunan permanen, di Jl. Bacang No. 46 Jati Padang Pasar
Minggu Jakarta Selatan. Awalnya, kegiatan masih tetap sama yaitu penddikan
keagamaan dan pendidikan dasar, lalu mulailah berkembang untuk kegiatan
keterampilan, dengan metode kerajinan tangan dimana pada saat itu mereka hanya
mengandalkan anggaran dari pemerintah.
Pada
tahun 2010 yaysan ini sudah mulai terjadi
goncangan besar, pengurus pun banyak yang mengundurkan diri, hingga tahun 2012
kegitan di yayasan ini vakum. Tidak ada kegiatan, tetapi hanya ada tempat dan
anak-anaknya saja.
Ia memtuskan
untuk mengundurkan diri tahun 2012, karena saat itu ia ingin menghadapi sidang
skripsi tahun 2013, tetapi pembina yayasan pada saat itu pun mulai goyah.
Hingga akhirnya ia dipercayakan untuk membina yayasan pada bulan Juni 2013, ia
ditinggalkan oleh pembina sebelumnya begitu saja, dengan keadaan legal yayasan
yang sudah mati dan bangunan yang sudah tidak layak ditempati.
Akhirnya
ia memutuskan untuk berhenti kerja dan cuti kuliah, keuangannya pun semakin
lama semakin menurun, sampai-sampai ia harus memulung.”Disitu saya mikir, masa
calon sarjana mulung begini, akhirnya
saya putuskan saya harus bangkit, ancur, ancur sekalian bangkit, bangkit sekalian”
katanya.
Hingga
pada akhirnya tahun 2015, konsep yang dibuatnya berjalan. Seiring berjalannya
waktu kegiatan di yayasan pun mulai berjalan dengan normal hingga sekarang. Kegiatan
mulai bertambah, terhitung sejak 2019, yayasan ini sudah melalukan 4 program pertama
keagamaan, kedua pendidikan, ketiga keterampilan dan yang terakhir adalah
kesehatan.
Mengakhiri ceritanya ia berharap
yayasan ini kedepannya lebih baik lagi, program-program yang sedang
direncanakan pun terlaksana, dan anak-anak dapat lebih maju karena masa depan
mereka masih panjang. Ia berharap kelak ketika anak-anak sukses harus bisa
berbagi kepada siapapun.
tulisan ini telah dimuat di bandungberita


Tooopppp pisan
BalasHapus